Gowes Jakarta – Anyer ( the story )

Re Post from email Nte IJUL

Atas permintaan kawan-kawan seperjuangan gowes Jakarta – Anyer, tulisan ini saya buat.

Alhamdulillaahirobbil’aalamiin, pertama-tama kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah yang Maha Kuasa, bahwa perjalanan touring Rogad ke Anyer pada 7-8 Maret kemarin telah terlaksana dengan baik, lancar, aman dan selamat serta dipenuhi kebahagiaan, kasih sayang, kekeluargaan, kebersamaan, kesetiakawanan, persahabatan, canda tawa, perjuangan, cela-celaan, ceng-cengan, dan suka cita (dengan beberapa kisah miris dan tragis yang akan diungkap di bawah ini).

Ternyata banyak rekor dalam perjalanan kali ini, di antaranya:

· Rekor gowes terjauh: Michael

· Rekor gowes tersingkat: Yani dan runner up Oom Bayu

· Rekor “peserta yang dievak”: pemenang tunggal à Yani

· Rekor peserta gowes tamu: Adik kita Ridho

· Rekor tim evak terbaik: Nte Fien dan Dado, selanjutnya dibantu Yani

· Rekor peserta paling dahulu sampai: Ijul dan Agung, tiba di Marbela sekitar pukul 9 malam.

· Rekor peserta paling akhir tiba: Om Bayu, Ridwan dan Fandri

· Rekor peserta yang ternyata secara waktu paling akhir tiba: Michael, sekitar jam 12 malam.

· Rekor pengalaman paling tragis: Nominasinya antara: (1) Michael (2) Herman & Irsan (3) Didit

· Rekor peserta paling rajin bersih-bersih (cuci piring, ngelap2, buang sampah, nyapu, ngepel, dll): Nominasinya: (1) Om Heru (2) Om Tono (3) Om Iyunk [bapak2 rumah tangga yang baik! Hehehe] (4) Om Gery (5) Om Herman

· Rekor peserta paling pules tidurnya: nte Ria (itu aja yang aku tahu, secara aku tidur bareng dia… hehehe]

· Rekor peserta paling item: Cukup jelas. Hehehe! Jadi Rekor nomer 12 ini kita ganti dengan: Rekor Peserta Paling Tahu Cilegon dan sekitarnya: Fadli

· Rekor peserta paling ngeluh dan full of swear and curses sepanjang jalan: Denger2 nominasinya (1) bowo dan (2) om zamani… hehehehehehe…. Namun harap dicatat bahwa keduanya menolak pencalonan mereka sebagai pemegang rekor ini…. Heheheh….

· Rekor peserta yang katanya dah mau mati: ada deh… hehehehhe…. Apa perlu dibuka?

· Rekor peserta dengan kecepatan gerak putaran gowes kaki tertinggi: Nte Ria

· Rekor peserta dengan posisi paling nyaman untuk tidur pules di kereta: Ogut

· Rekor peserta paling diem (ga bersuara kalo ga disenggol dulu): nominasinya (1) Gery (2) Michael dan (3) Herman

· Rekor peserta paling rame sekaligus berisik dan paling sering curhat: Bowo

· Rekor peserta paling paham bike clinic: Ogut

· Rekor peserta paling kalem: Nominasinya (1) Iyunk dan (2) Oom Tono

· Rekor peserta paling ceria dan penuh semangat: Nominasi (1) Fandry dan (2) Agung

· Rekor peserta paling carefree/nyantai/ga ada beban pikiran: Rizki

· Rekor peserta paling tabah: Nominasi (1) Michael (2) Didit (3) Ria (4) Irsan (5) Herman (6) Novik

· Rekor peserta paling sabar: Nominasi (1) Ogut (2) Michael

· Rekor peserta tuan rumah terbaik: om heru dan Ridwan memegang rekor bersama

· Rekor peserta yang pulang tercepat: Hamdan

· Rekor peserta paling jago masak dan membagi 4 bungkus mie instan untuk ber-8: Herman dibantu Nte Ria

· Rekor peserta paling menderita di akhir perjalanan: Didit

· Rekor peserta yang pulang tanpa memakai underwear: Hmm… kayaknya ga perlu diumumin deh… hehehehe… jadi, rekor nomer 29 diganti aja ama Rekor Peserta Paling Ajaib: Nominasinya: (1) Gery (2) Fandri dan (3) Ridwan

· Rekor pengantar paling oke: Om Widi dan Om Andy yang bela-belain nemenin gowes sampe blok M.

Berikut laporan pandangan mata dan pendengaran telinga saya selama mengikuti perjalanan, tentunya tidak semua momen saya tatap langsung, dan tidak pula semua yang saya dengar benar adanya, harap kawan-kawan seperjalanan ikut menambahkan apa yang luput dari cerita oleh-oleh berikut ini.

Hari H-4 dst.

Selasa malam itu para calon peserta touring gowes Jakarta – Anyer bertemu rapat konsolidasi untuk terakhir kalinya di Bakmi Jawa Ciliwung guna menyepakati beberapa hal dan berbagi informasi serta persiapan teknis. Persiapan mental dan fisik juga terus dilakukan.

Disepakati tim Rogad akan kumpul di TMP pukul 06.30 pagi pada hari H. Jalur yang akan dilalui:

CILEDUG – TANGERANG – CIKUPA – BALARAJA – PARIGI – CIRUAS – SERANG- CILEGON – ANYER dengan total perkiraan jarak 144 km.

Hari H

Pagi itu, satu persatu calon peserta berdatangan ke TMP. Karena banyak yang belum sarapan, sarapan dululah kami di sana, ada yang nyabu (sarapan bubur), ada yang pesan lontong sayur. Ada juga yang sibuk menata ulang dan membongkar-bongkar barang bawaan. Total peserta ada 21 orang yakni: 1. om Heru Susetiawan dengan seli-nya 2. om Iyunk 3. om Irsan 4. om Tono tukang potret 5. om Didit brewok 6. om Fandri 7. om Bowo dan seli-nya (yang diantar adiknya yang lantas membuat Mr Munandar tersipu-sipu) 8. om Ogut Dei 9. om Rizki 10. Ijul 11. om Agung Awy 12. nte Yani Djangkung dan seli-nya 13. om Ridwan Papanya Badut 14. om Hamdan 15. om Michael 16. om Fadli 17. om Geri 18. nte Ria 19. om Herman 20. om Zamani dan 21. om Novik.

Sekitar pukul 0800 Tim Anyer dilepas dengan doa, dukungan dan pandangan berkaca-kaca penuh haru dari para penggembira pagi itu yakni: 1. Nte Dianda 2. Om Widi 3. Om Dado dan 4. Om Andi dan 5. Om Bayu. Kecuali nte Dianda, keempat oom mengantarkan rombongan dengan jarak berbeda-beda hingga ke mampang…. Makasih atas doa restunya, oms dan tan…  Om Bayu dan Nte Fien serta adik Ridho dan om Dado rencananya akan menyusul dan bergabung dengan Rombongan tengah hari nanti. Rombongan pun mulai melaju ke arah Ciledug dengan penuh semangat. Apa nyana, ternyata dalam perjalanan ke Ciledug sudah dihadang kemacetan. Dan panasnya aspal serta asap knalpot dan debu jalanan mulai terasa. Namun semua itu tak meruntuhkan semangat. Kami pun terus menggowes dengan mantap ke arah Tangerang.

ETAPE I – Ciledug – Tangerang

Tim masih penuh semangat gowes dengan berhenti sejenak di sana-sini. Tidak ada masalah berarti yang dihadapi tim. Kontur jalan kadang ada tanjakan dan turunan panjang namun relatif landai. Melewati beberapa pasar pinggir jalan yang ramai.

ETAPE II – Tangerang – Cikupa

Waktu mulai melewati pukul 11 siang, mentari mulai terik. Sekitar pukul 12 siang, sebagian besar anggota rombongan sempat berhenti cukup lama untuk re-grouping, sambil berteduh dan minum. Ternyata Om Didit mengalami trouble dengan bannya yang bocor akibat isi stapler alias cekrekan…. Di sinilah kisah tragis Didit dimulai… Hehehehe….

ETAPE III – CIKUPA – BALARAJA – PARIGI

Etape ini dilalui antara pukul 12.00 – 14.00 Sebagian besar rombongan menunggu cukup lama di perempatan di Parigi, ternyata Bowo pagi tadi tidak sarapan sehingga lemas dan keliyengan dan memutuskan untuk makan siang dulu bersama Irsan, kerana Irsan pun sudah lemas tak bertenaga dan hilang semangat sambil ditemani Ridwan, sementara kami menunggu di pinggir jalan sampai-sampai tante ria sempat tidur di kursi depan kedai tukang cukur. Bahkan om tono dan yani pun sempat keramas dan cuci muka saking lamanya menunggu. Hehehe… Akhirnya Ridwan dkk muncul dan mengajak mampir ke rumah mertuanya yang ternyata tak jauh dari situ… Aduhai, seandainya diberitahu lebih awal, alangkah lebih baiknya kami menunggu sambil goleran di rumah keluarga Ridwan yang asri dan sejuk itu ketimbang di pinggir jalan…. Hehehhehe….

PIT STOP MAKSI DAN SHOLAT

Antara pukul 14.00 – 16.00 kami beristirahat di rumah keluarga Ridwan. Tim Evak (nte vien dan om dado) plus Om bayu dan Ridho pun menyusul dan bergabung dengan kami sini. Begitu tiba, semua langsung pada goleran di teras dan yang cewe2 di lantai ruang tamu. Makan siang nasi padang segera dibeli… Air sejuk sirup manis pun segera disuguhkan…. Alangkah nikmatnya, semua dahaga dan lelah hilang, semangat terpacu kembali…. Belakangan setelah kami siap makan, sholat dan berangkat lagi, baru lah kami paham, ternyata mertua ridwan buru-buru masak buat kami, masak nasi, mie goreng, telur dadar dan telur ceplok… alhasil, semua makanan itu kami angkut ke marbela buat dinner. Hehehehe… Makasih banyak ya oom ridwan, tolong sampaikan terimakasih dan salam hormat untuk orangtua kami di Parigi tersebut😀

Mulai dari sini Yani di-evak, tidak melanjutkan gowes, setelah menempuh sekitar 70 KM (separuh jalan). Oom Bayu dan Ridho justru yang bergabung gowes dengan kami. Dengan diiringi riuh rendah ceng-cengan dari kawan-kawan yang lain Yani pun resmi menjadi anggota tim evak. Nampaknya ada beberapa kawan lain yang juga dalam hati kepengen di-evak, cuman tengsin aja… hahahahhaha…. Malu jadi selebriti milis rogad kayanya… hehehheeh….

ETAPE IV – PARIGI – SERANG

Panas mentari masih terasa terik saat kami mulai gowes lagi. Jalan yang membelah dataran sawah terbuka membuat angin menderu-deru menahan laju kami. Di beberapa lokasi, jalan rusak sehingga kendaraan bergiliran lewat. Kontur tetap ada tanjakan dan turunan panjang landai, namun relatif datar… Melewati pasar-pasar pinggir jalan yang ramai dan padat oleh angkot juga. Hamdan sempat kram dan jatuh di salah satu pasar ini karena menahan sepeda dan tubuh dengan berjinjit sehingga uratnya ketarik. Orang-orang heboh memanggil saya “mbak, mbak, temannya jatuh di belakang”, sempat khawatir ada yang kena tabrak, tapi untungnya, cuman kram dan Ogut sebagai pemegang alat P3K cepat tiba, sehingga bisa segera ditangani. Sekitar pukul 17.00 mentari tak terik lagi dan kami pun dapat gowes tanpa terlalu lelah akibat panas.

ETAPE V – SERANG – CILEGON

Pukul 18.00 Kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan sholat Maghrib. Hingga di sini Ridho mengakhiri perjalanannya sebagai bintang tamu yang telah gowes dengan kecepatan baik dan terus mengikuti rombongan depan, karena hari telah gelap. Sekitar pukul 19.00 kami mulai gowes lagi. Di sini Ijul dan Agung mulai memimpin di paling depan setelah meminta ijin pada oom Heru yang paling depan dan akhirnya terpisah jauh dari anggota rombongan lainnya tanpa akhirnya pernah bersama lagi hingga Marbela. Tak berapa lama, hujan pun menderas turun….  Persis saat hendak belok kiri ke jalan raya Anyer (Karang Bolong). Kami berdua berhenti sambil menunggu rombongan lain menyusul. Tapi karena hingga beberapa lama tak ada yang menyusul, kami pun berkemas dengan jas hujan dan meneruskan perjalananan dengan pertimbangan tak ada yang tahu kapan hujan reda dan badan jadi dingin jika berdiam saja. Belakangan saya baru tahu Oom Bayu mengkhawatirkan saya kena kram akibat hujan, kerana dari pengalaman2 lalu, saya kram jika kaki kena dingin/terendam/basah. Makasih, Oom🙂 Alhamdulillah saya tak mengapa, mungkin karena badan dan otot2 sudah panas gowes sepanjang hari.

ETAPE VI (TERAKHIR) – CILEGON – ANYER (total waktu perjalanan sekitar 13 – 14 jam)

Inilah etape paling jahanam, setidaknya bagi saya malam itu. Setidaknya 20 KM di antaranya adalah yang terburuk dari seluruh etape. Kondisi hujan deras, jalan licin, gelap (tidak ada lampu jalan), lapangan terbuka di kanan-kiri jalan (kondisi kawasan industri) dengan rumah penduduk yang jarang, jalanan yang berlubang-lubang parah penuh air (tidak diketahui kedalamannya), persis medan off-road, hanya lebih menyeramkan sedikit, karena truk2 dan kendaraan juga lewat situ, penuh lubang jebakan maut. Kontur jalan turun naik pula. Sempat pula jatuh di rel melintang yang berlubang-lubang, walaupun untungnya jatuhnya bisa rada ditahan karena memang sudah pelan-pelan sekali gowesnya. Etape ini rasa-rasanya menjadi etape terlama dan paling menguras tenaga dan semangat, apalagi hanya ada seorang kawan seperjalanan yang untungnya juga penuh semangat. Tapi kalau beramai-ramai pasti rasanya lebih menyenangkan. Yah, itulah resikonya kalau tidak mau menunggu yang lain, walaupun  akhirnya menjadi yang paling awal tiba (lebih cepat sekitar hampir 1 jam dari yang lain, sekitar jam 9-an malam), rasa-rasanya tidak ada kebanggaan khusus… hehehhehee…. Karena toh ini bukan balapan dan seandainya balapan pun belum tentu kami jadi yang paling cepat. Ini hanya karena kami nekat nerobos hujan, and it was not worth it, trust me. Heehe… baju basah kuyup sampai ke dalam, kotor, becek, oli, lumpur, dingin, dsb. Dan masih harus menunggu lama untuk masuk dalam apartemen… sampai-sampai harus goleran dulu di luar pos satpam dan di luar pintu apartemen…. hehehhee….

Karena jauh dari rombongan yang lain, kami akhirnya tak banyak mengetahui kisah-kisah di etape terakhir ini. Ternyata beberapa kawan sempat mampir di warung pinggir jalan untuk makan dulu. Dan di sini juga kisah lucu nan tragis Michael bermula. Konon, saat beberapa kawan cabut dari warung tersebut (yang hanya sekitar 100-200 meter dari apartemen), Michael mengikuti dari belakang, namun anehnya tak satupun dari kawan-kawan ini menyadari Michael ikut mereka, dan ketika mereka berbelok kanan masuk ke sol elite marbela, Michael rupanya tidak melihat saat mereka belok dan terus gowes hingga terus dan terus dan terus….. dan…… (to be continued)

Om Bayu, Fandri dan Ridwan menjadi tim sweeper yang paling akhir tiba di apartemen. Saat itu sudah lewat pukul 10 malam. Beberapa dari kami langsung menyantap hidangan sate yang dibeli tim evak dan nasi dan mie goreng dan telur dadar bekal dari Parigi.  Setelah itu mulai bersih-bersih badan. Ada yang mandi, (sebagian di bawah) dan lain sebagainya. Sekitar antara pukul 11.00-12.00 tengah malam mulai terjadi kekacauan dan beberapa kisah tragis bin dramatis mulai terungkap pelan-pelan….

Konon, Iyunk menerima telpon dari Michael, mengabarkan ia telah tiba dan nyasar di ujung Pantai (yang ternyata ujungnya pantai carita???) di mana tiada lagi hotel apapun terlihat. Kedengarannya ia nyasar, dan Iyunk pun tidak ngeh bahwa maksud Michael ia sama sekali belum tiba di Marbela. Dipikir Iyunk, Michael sudah tiba sejak tadi dan saat itu sedang jalan-jalan keluar di pantai. (Harap dicatat bahwa ini adalah sekitar 1-2 jam setelah semua tim (supposedly) tiba. Mungkin karena sudah kelelahan, begitu sampai tidak ada yang kepikiran untuk mengecek siapa saja yang sudah sampai). Oleh karena itu Iyunk dengan santainya menyuruh Michael kembali ke hotel.

Di sisi lain, Dado pun konon mendengar suara orang memanggil-manggil dirinya agak lama. Kemudian baru disadari ada orang terjebak di lift yang agak dekat dengan pintu apartemen. Sebagian mengira yang terjebak adalah Michael yang sudah kembali dari Pantai (yang dikira dekat hotel) namun kemudian disadari bahwa yang terjebak adalah Herman dan Irsan. Bahkan mereka sudah sekitar setengah jam terjebak di dalam, dan tidak bisa memanggil operator/teknisi sehingga nekat berusaha mencungkil pintu lift (yang sebenarnya hanya terhenti sekitar 50 cm saja di bawah lantai itu). Akhirnya teknisi pun dipanggil. Belakangan diketahui, tombol pemanggil operator lift/teknisi sengaja dimatikan karena sudah jam 12 malam dan jarang orang menggunakan lift tersebut. Om Irsan yang sudah emosi akibat kelelahan gowes seharian dan terjebak lama dalam lift sempat mengomel kepada teknisi. Let out the steam, ya oom? Hehehehe…


Lantas, apa yang terjadi pada Mike? Dia pun akhirnya gowes balik arah dan berhasil menemukan sol elite marbela, tapi sempat nyasar ke tower yang beda dulu. Saat diusut keesokan harinya, Mike dengan polos mengaku tidak mengetahui nama tempat tujuan, dan berharap kawan-kawan yang dikuntitnya dari warung akan menunggu di depan marbela. Well, masuk akal, sedikit. Tapi saya tegaskan lagi sedikit pelajaran akal sehat pada Mike bahwa:

(1) jika menuju ke suatu tempat, pastikan Anda tahu tujuan Anda ke mana

(2) jika belum tahu, HARUS tahu, cari tahu, bagaimana pun caranya (misal: bertanya, baca email dan catat, dll. dsb. Heheheh.)

(3) jangan pernah terpisah dari kawan seperjalanan Anda terutama jika Anda belum tahu tempat tujuan Anda dan

(4) pastikan bahwa kawan seperjalanan Anda MEMANG menuju tempat yang sama dengan yang Anda tuju… hehehhehe…..

Tim Evak malam itu pulang sekitar pukul 1 pagi, bersama oom Bayu dan Hamdan. Terimakasih om bayu, nte fien, om dado, Ridho, dan Yani! Dan selamat pulang dahulu oom Hamdan, senang bersepeda dengan Anda, kawan! Hehehe… Kami pun satu persatu mulai pulas. Para gadis dapat kehormatan tidur di kasur empuk ditemani angin dingin dari laut, sementara para pria harus pasrah tidur di lantai yang alhamdulilaah beralaskan bed cover dan selimut. Demikianlah malam itu akhirnya berlalu dengan penuh kedamaian tanpa ada satu pun AC bobrok.

H+1

Pagi itu sarapan dengan mi instan plus nasi semalam. Sebungkus mi instan kadang-kadang terpaksa dibagi 2… demikianlah kesetiakawanan dan gotong royong di Rogad… ahahhaa…. Setelah itu sebagian berenang, jalan ke pantai, dan foto-foto. Setelahnya mandi, berbenah, mencuci piring, menyapu dan mengepel apartemen, rapi2, dan bersiap berangkat. Start dari Marbela sekitar pukul 11.00 siang dengan tujuan Stasiun MERAK. Matahari telah terik. Tapi tak ada kata menyerah. Walaupun semalam sempat terdengar suara-suara hendak naik angkot, siang itu rupanya semua kompak gowes. Kami pun mulai gowes dan gowes dan gowes dan gowes. Hingga tiba di suatu titik di mana mulai terbetik keraguan apakah kami dapat mengejar kereta pukul 14.00 siang. Saat itu sudah hampir pukul 13.00 tengah hari. Akhirnya berbekal pengetahuan Fadli mengenai Cilegon dan sekitarnya (secara dulu pernah sekolah di daerah ini) Oom Heru berinisiatif mencegat kereta di Stasiun Krenceng (pemberhentian ke-2 setelah Merak), sedikit gambling, dengan pertimbangan, bisa menaikkan 19 sepeda dengan tenang sebelum terlalu ramai. Alhamdulillaah, setelah nego dengan kepala stasiun yang sebelumnya konfirm dulu ke Merak, kami dapat karcis resmi untuk orang dan barang, dan sepeda akan masuk di gerbong khusus barang. Dari Sta Krenceng saat itu memang gerbong barang belum terlalu penuh, sehingga masing-masing kami dapat tempat cukup nyaman untuk duduk atau berbaring dalam gerbong barang.

Namun kebahagiaan ini tidak berlangsung lama kecuali bagi segelintir kami. Ogut dapat posisi paling enak, bisa berbaring full sehingga dapat terlelap beberapa jam. Ridwan, Herman dan Ria juga dapat berbaring cukup walau kaki dilipat dan sempat tidur. Selebihnya terpaksa duduk dan berganti2 tempat beberapa kali karena terdesak oleh barang, orang dan genangan air mengalir. Belum ada ½ jam berkereta, masuklah bertong-tong hasil laut, ikan segar dengan es dan ikan asin serta hasil laut lain. Tak berapa lama, berkarung-karung hasil kebun (papaya dan nangka muda) dilemparkan ke atas kereta, tak berapa lama kemudian berbal-bal daun pisang pun memenuhi gerbong hingga hampir ke atap, teronggok manis di mulut pintu gerbong (ajaib juga tuh daun pisang kaga ada yang terlempar ke luar pintu). Gerbong barang pun ternyata tak hanya penuh dengan barang, tapi juga oleh ribuan manusia lainnya. Kadang-kadang kami terpaksa berdiri saking sesaknya. 4.5 jam terguncang-guncang dalam kereta (dan kena terpaan angin bagi beberapa kami), akhirnya tiba juga kami di Sta Palmerah sekitar pukul 18.00, di mana kami akan turun. Kehebohan luar biasa saat kami menurunkan sepeda-sepeda dengan gerak cepat. Untungnya masinis telah dipesankan bahwa kami akan turun di Palmerah sehingga kami ditunggu hingga tuntas.

Setelah lengkap dan mengecek sepeda lagi, ternyata ban sepeda Didit kempes lagi dan terpaksa diganti. Ogut sang mekanik sepeda pun segera mengganti ban dalam. Setelah semua siap, ternyata Didit masih tak ada di antara kami. Cukup lama rupanya di WC. Barulah sebagian besar dari kami mendengar cerita bahwa sejak sebelum naik kereta, Didit sudah mengeluh sakit perut, dan sepanjang perjalanan menahan derita. Karena lama tak kunjung keluar dari WC, kami pun meminta Ogut nyamperin, takutnya tuh anak pingsan or kenapa-kenapa. Ternyata ia sempat muntah-muntah dan keluar masuk WC beberapa kali. Akhirnya setelah kondisinya agak mendingan, kami pun mencegat taksi untuk Didit yang sudah terlihat sangat lemas dan mempreteli sepedanya agar muat di bagasi. Oom Zamani telah pulang lebih dahulu setelah menunggu Didit sekitar 1 jam karena telah berjanji dengan mertuanya. Sekitar pukul 20.00 malam, kami pun gowes via Semanggi menuju TMP sebagai titik terakhir untuk makan malam sebelum bubar. Bowo memisahkan diri di semanggi untuk menuju rumah lewat sudirman. Di kalibata Rizki dan Geri juga memisahkan diri pulang duluan.

Kami makan malam, kecuali saya dan nte Ria yang sudah tidak bernafsu makan lagi. Mengucapkan kesan dan pesan (yang saya missed karena harus ke toilet.. heheheh) dan bersalam-salaman penuh kehangatan! YES! YES! WE DID IT! AND WE DID IT WELL!! Tanpa ada satupun halangan berarti atau kejadian yang tidak diinginkan. Alhamdulillaaah….

Kesan saya pribadi, perjalanan touring ini sungguh luar biasa dan jadi salah satu unforgettable moment dalam hidup. Pencapaian pribadi sekaligus kelompok. Membuktikan bahwa kita bisa, bahwa kita kompak, bahwa kita sungguh satu keluarga! YES, WE CAN! Kalo kata Obama. Bersama kita bisa! Err… itu slogannya siapa ya? Hehehehe! YES, WEEKEND! Itu kata kita yang begitu senang saat akhir pekan telah tiba. Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi… Errr…. Itu juga, kata siapa ya? Intinya, persiapan, persiapan, persiapan! Persiapan fisik dan mental wajib, as usual.

Anyway, selamat dan kudos buat kawan-kawan seperjalananku, semuanya tanpa kecuali! Terimakasih atas segalanya!!! You’re the best! Terimakasih khusus untuk Tim Evak dan Tim Hore! Makasih Dado yang udah bawain barang lebih dan terimakasih Iyunk yang udah bantu bawa barangku. Terimakasih khusus buat Widi dan Yani yang udah minjemin peralatan. Terimakasih Agung yang telah jadi teman seperjuangan yang mantap di etape terakhir! Makasih khusus buat Oom Bayu dan Oom Heru! Makasih buat kawan-kawan RoGad semua yang telah mendoakan kami semua. Semoga persaudaraan dan kekeluargaan RoGad ini terus berjalin dan semoga adanya RoGad dapat lebih dan lebih lagi melakukan kebaikan dan memberikan manfaat di masa yang akan dapat.

Jika ada kekurangan dan kesalahan ketik dalam penulisan ini, mohon dimaafkan dan sila kawan-kawan seperjalanan mengoreksi hal-hal yang perlu dikoreksi. Ditunggu touring-touring selanjutnya.

Wassalaam,

Ijul, the rider of Roheryn

1 Response so far »

  1. 1

    Salam kenal,

    Mungkin ada yang berminat untuk menginap di Hotel dan Resort Pantai Carita, kami mengelola beberapa unit owner Kondominium Lippo Carita dan Mutiara Carita Cottages. Untuk lebih jelasnya, bisa kunjungi website kami di http://www.caritafantasi.com

    Terima Kasih


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: