ROGAD – Touring awal tahun Jakarta – Lampung

Pendahuluan

Berawal dari pembicaraan  yang  terjadi pada saat berkumpul  dan bercanda yang khas ROGAD, tiba-tiba  entah dari mana dan siapa muncul ide untuk Touring ke Lampung.  Segera  ide untuk melakukan perjalanan touring dengan sepeda dengan tujuan  Lampung itu disambut  MASIH dengan nada guyonan.

Mungkin pada saat itu pada benak masing-masing  mulai bermunculan  beberapa pemikiran ;  berapa hari ya kira-kira ? enaknya bolos atau cuti?  Pake Sepeda MTB atau seli, berapa  besar bekal yang harus disiapkan?

Singkat cerita akhirnya diputuskan  untuk berangkat pada Hari Jum’at tanggal 8 Januari, dengan pertimbangan  cuti atau bolos cuma satu hari kerja dan pilihan jatuh  pada sepeda lipet dengan pertimbangan  lebih flexible pada saat pulang dari Lampung ke Jakarta.

Hari Pertama

Jum’at pagi tanggal 8  meeting point di STEKPI kalibata,  dimulai dengan briefing rute yang akan dilewati, tujuan akhir, dan beberapa kemungkinan lainnya seperti HUJAN, atau hal-hal lain yang tidak kita inginkan.


Dimulai dengan do’a bersama  akhirnya  kami  berdelapan  dengan menggunakan sepeda lipet  ditambah satu orang pengantar yang menggunakan MTB  start dari STEKPI  Kira-kira jam 08:30 dengan rencana PIT STOP pertama sekitar  Tangerang.  Dari arah kalibata kami menuju tangerang  melewati  kebayoran kemudian ciledug.

Kondisi cuaca  mendung sepanjang Kalibata – Tangerang, jadi kami mulai menyiapkan jas hujan untuk jaga-jaga.  Dan ternyata benar  menjelang masuk kota Tangerang hujan mulai turun namun tidak terlalu deras, akhirnya kami putuskan untuk terus  untuk mencari Mesjid untuk PIT STOP pertama  dan melakukan shalat  jum’at

Memasuki kota Tangerang  kemudian Cimone  kami terus mengayuh sepeda pambil mencari Mesjid  di pinggir jalan.  Ternyata  tak banyak Mesjid  yang  berada tepat di pinggir jalan,  akhirnya sekitar JATAKE kami coba mengikuti  orang-orang  yang menurut perkiraan kami akan menuju Mesjid dan kami pun bertanya letak Mesjidnya di mana untuk kemudian melakukan  shalat jum’at.

Setelah re-Packing  di lingkungan Mesjid  tibalah saatnya untuk mencari tambahan tenaga, MAKAN SIANG,  mulailah bermunculan ide makan apa? Ada yang kepengen makan yang berkuah, ada yang ingin makan WARTEG saja. Ternyata  tidak mudah menyatukan  selera, akhirnya setelah  kurang lebih 5 KM dari Mesjid kita baru menemukan tempat makan yang  dapat memuaskan kami yaitu WARTEG yang juga menyediakan SOTO.

PIT STOP selain kami gunakan untuk menambah tenaga  juga kami gunakan untuk kembali menyetel sepeda kami,  memperbaik REM,  membersikan kemudian melumasi Rante dan tentunya re-Packing bawaaan kami.

Setelah semua siap, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan tujuan PIT STOP berikutnya kota SERANG  melalui  Cikupa-Balaraja-Tigaraksa-Cikande..  Rupanya  kondisi cuaca menguji kami, belum berapa lama  kami mengayuh sepeda  hujan turun dengan sangat derasnya, akhirnya kami berhenti  sambil menunggu hujan reda.

Setelah hujan agak reda, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju kota Serang  cukup landai dengan diselingi beberapa tanjakan.  Dikarenakan  kawasan sekitar Tangerang  sampe Tigaraksa merupakan daerah Industri dengan pabrik-pabrik, maka  sepanjang perjalanan kami harus lebih hati-hati  karena selalu harus berhadapan dengan  truk gandeng, truk kontainer dan bis karyawan.  Terkadang kami harus mengalah  sampe ke badan jalan  karena  mungkin kami dianggap tidak ada  di jalan.

Akhirnya  menjelang sore  kami sampai di  gerbang kota Serang.  Kemudian kami mencari terminal bis untuk  yang akan mengantar  satu orang pengantar yang akan pulang ke Jakarta.  Padahal kami sudah berusaha   mengajak untuk terus melakukan perjalanan sampai Lampung atau Merak. Tetapi  rupanya rayuan kami tidak berhasil, akhirnya setelah mendapatkan bis yang akan mengantar pulang ke Jakarta, kamipun berpisah.

Dikarenakan hari mulai gelap, waktu menunjukkan pukul 19:00 akhirnya kami memutuskan untuk  kembali mencari tambahan tenaga. Lagi-lagi terjadi  perdebatan yang seru untuk memutuskan mau makan di mana, dan akhirnya pilihan tidak berubah untuk makan di WARTEG.

Setelah kami rasa cukup waktu untuk istirahat dan kembali menyetel sepeda, kemudian re-packing, akhirnya kami  memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan tujuan akhir hari pertama yaitu  Pelabuhan Merak melewati  Cilegon.

Kondisi jalan dari Serang menuju Cilegon jalanan relatif  ramai lancar, namun agak gelap sehingga kami harus lebih hati-hati dalam mengayuh sepeda kami. Kontur jalan yang  lumayan naik turun   cukup menguras tenaga kami, tetapi tetap tidak menyurutkan semangat untuk terus melanjutkan perjalanan.  Akhirnya sekitar 1 jam  perjalanan, kami mulai bersemangat kembali ketika melihat gerbang  Selamat Datang di Kota Cilegon, yang berarti kami sudah tidak jauh dari tujuan akhir hari pertama.

Dari informasi yang kami  dapatkan jarak Cilegon sampai pelabuhan kira-kira 15 KM. Jalanan lumayan gelap ditambah  Cuaca yang sangat mendung  dan sesekali bunyi petir, dan kami sekali lagi harus berbagi jalan dengan Truk dan Bis  yang juga menuju pelabuhan.

Perjalanan dari Cilegon ke pelabuhan  ternyata menjadi titik balik, semangat kami untuk cepat sampai ke tujuan harus berkompromi dengan kondisi tubuh kami yang mulai lelah setelah hampir setengah hari  mengayuh sepeda.

Waktu menunjukkan pukul  21:30 malam,  dan rupanya sekali lagi  kondisi cuaca yang mulai kurang bersahabat menguji kami. Kira-kira 7 KM lagi  menjelang pelabuhan  hujan turun dengan sangat derasnya diselingi petir yang menyambar.  Kamipun tidak punya pilihan lain selain terpaksa berhenti  untuk menunggu hujan reda.

Setelah hujan agak reda, akhirnya dengan semangat terakhir  kami kembali mengayuh sepeda untuk sampai  di pelabuhan. Dengan kondisi yang lumayan basah kuyup  kami mencoba mencari  tempat untuk sekedar mandi dan berganti pakaian sebelum kami naik kapal untuk menyebrang ke Lampung.  Dengan pertimbangan masih hujan akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat mandi di sekitar pelabuhan saja agar  bisa langsung naik ke kapal.

Setelah  beberapa dari kami membersihkan diri  di sekitar pelabuhan, kami pun mulai bertanya ke petugas pelabuhan apakah kami boleh membawa sepeda melalui gerbang penumpang(orang )  atau kami harus  melalui gerbang mobil atau motor yang berarti kami harus sedikit memutar lagi.  Oleh petugas kami diperbolehkan  melewati gerbang penumpang  setelah kami berargumen bahwa sepeda kami bisa dilipat.

Akhirnya kami pun  bisa naik kapal  dan segera setelah  parkir sepeda di tempat yang aman, masing-masing kami mencari tempat untuk sekedar istirahat  dan tidur untuk mempersiapkan perjalanan  hari ke dua.

Resume hari pertama :

  • Rute Jakarta-Ciledug-Tangerang-Cimone-Cikupa-Tigaraksa-Serang-Cilegon-Merak
  • Jarak  kurang lebih 120 KM
  • Waktu tempuh  Start   Kalibata  08:30  sampai di merak 24:00
  • Kontur jalan  relatif datar  diselingi beberapa tanjakan landai , jalan relatif mulus.

Hari kedua

Wow,, akhirnya sampai juga di  Bakauheni, setelah terombang-ambing di  selat sunda selama kurang-lebih  2,5 jam.   Karena hari masih terlalu pagi  akhirnya kami memutuskan untuk kembali mencari tempat istirahat di dalam pelabuhan untuk melanjutkan istirahat  di kapal.  Di lobi pelabuhan rupanya banyak juga orang-orang yang tidur  lesehan di lantai, rupanya mereka menunggu siang  sambil menunggu  bis yang menuju kota lampung  datang.

Kira-kira jam 5 pagi, kamipun mulai bersiap-siap untuk mencari tempat mandi, karena beberapa dari kami belum sempat mandi di merak, dan juga untuk mencari sarapan pagi.  Tidak jauh dari parkiran pelabuhan  ada tempat mandi yang lumayan bersih, akhirnya kamipun bergantian  untuk mandi dan ganti baju.

Setelah sarapan  semangkuk Bubur Kacang Ijo   dan kopi  serta teh manis, kami pun bersiap untuk  melanjutkan perjalanan ke kota  Bandar Lampung.  Terus terang hampir semua dari kami  buta dengan kondisi  jalanan dari Bakauheni ke Lampung.  Ada yang sudah pernah beberapa kali  melakukan perjalanan darat tetapi  menggunakan mobil atau bus  yang pastinya beda.

Lagi-lagi kami harus berhadapan dengan Truk gandeng dengan muatan yang menjulan dan bis-bis antar kota yang ternyata sudah siap keluar dari pelabuhan.

Keluar dari gerbang pelabuhan, kami langsung dihadapkan  pada jalan tanjakan yang curam dengan kemiringan  kira-kira 50 derajat, dan masih terus menanjak terlihat dari bawah.  Keadaan ini cukup membuat kami terkaget-kaget karena  kami persedian air dan makanan kecil kami sudah habis dan kami belum sempat  membeli lagi.

Sampai di tanjakan pertama, kembali kami dikejutkan dengan  papan penunjuk jalan  yang memberi tahu  jarak kota Bandar Lampung adalah 97 KM.   Tidak ada pilihan lain kami harus LANJUT sesuai dengan rencana.

Setelah  refill perbekalan, kami melanjutkan  perjalanan. Tanjakan demi tanjakan kami lalui dengan  tenaga dari semangkuk bubur kacang ijo dan  sepotong coklat.  Hampir 15 KM pertama adalah tanjakan dengan kemiringan 35 sampe 50 derajat   dan tanjakan  landai namun panjang.  Mulai dari  sini rombongan mulai sedikit terpecah, karena masing-masing  menggunakan teknik masing-masing untuk melahap tanjakan demi tanjakan yang mau nggak mau harus dilewati.

Beruntung hari masih pagi  dan matahari belum terlalu ganas  sehingga  sedikit membantu kami dalam mengayuh sepeda. Tetapi tetap saja ritme kayuhan  kami tergangu oleh Truk dan Bus  yang sering memepet kami sehingga kami harus mengalah sampai ke badan jalan yang penuh dengan kerikil dan tanah  basah.

Rencana PIT STOP pertama adalah  Kalianda, kira-kira 55 KM dari Bakauheni,  tetapi dengan melihat kondisi jalanan yang terus  menanjak  di selingi beberapa turunan yang tetap saja  kurang bisa dinikmati karena kita harus  berhadapan dengan Truk dan Bus, akhirnya kami memutuskan untuk  berhenti  mencari tempat makan.  Beruntung kami menemukan tempat makan  yang menyediakan  bale-bale  bambu  untuk sekedar tiduran dan  kamar mandi yang lumayan bersih.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kami, beberapa dari kami kembali tertidur pulas, atau malah mungkin bermimpi  sudah sampai di Lampung.  Lumayan lama kami berhenti di tempat makan ini.  Cuaca mulai terasa menyengat, matahari mulai meninggi, beberapa dari kami mulai membongkar bawaan dan menjemur  pakaian dan sepatu yang basah terkena hujan di  Merak.

Setelah merasa cukup beristirahat dan mengisi perut, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.  Lagi-lagi  masih  harus melahap tanjakan demi tanjakan yang panjang  dan  kondisi jalan yang cukup panas.  Tetapi kami sedikit mendapat semangat dari anak-anak yang  berlarian ke pinggir jalan  dan berteriak ‘ Hello Mister, Hello Mister’  dan juga beberapa supir Truk yang mengacungkan jempol. Rupanya mereka heran  dan mungkin jarang melihat  rombongan sepeda lewat

Karena kondisi jalanan yang relatif menanjak  rombongan kembali tercecer dalam beberapa group.  Waktu menunjukkan sekitar  jam 2 , akhirnya kami sampai di gerbang kota Kalianda.  Kamipun beristirahat  untuk sekedar melepas lelah  dan re-grouping.

Kamipun mulai berhitung : Jarak Bakauheni – Bandar Lampung = 97KM, kami sudah menempuh 55 KM,  jadi sisa perjalanan adalah 42 KM  dengan rata-rata waktu tempuh 20Km per jam  kami beranggapan bisa sampai di Bandar lampung   menjelang sore . Jadi kami SKIP makan siang.

Ternyata dugaan kami sedikit meleset,  sisa perjalanan  masih harus kami lewati dengan tanjakan yang panjang   dan menguras tenaga.  Beruntung  setelah melewati Kalianda cuaca agak mendung  diselingi hujan yang tidak terlalu deras namun berlangsung  hanya sekitar 5-10 menit.  Kondisi ini lumayan membantu  menyiram uap panas yang keluar dari aspal jalan yang sebelumnya  terkena terik matahari.

Setelah melewati  daerah Sidomulyo  mulailah terlihat jejeran pohon kelapa di sebelah kiri jalan. Asyikk kami pun berteriak  berarti  sebentar lagi  terlihat pantai dan jalanan mulai datar. Rupanya lagi-lagi  anggapan kami salah,, tanjakan demi tanjakan harus kami lalui, walaupun  menurut penduduk setempat  yang memberitahu kami selalu  mengatakan  ini tanjakan terakhir.

Setelah hampir  2 jam melewati  FATAMORGANA jejeran pohon kelapa akhirnya kami menemukan turunan yang sangat curam dan terlihatlah  di seberang  sejajar dengan jalan yang kami lewati  LAUT atau pantai.  Lokasinya sebelum memasuki  daerah Tarahan.  Dengan view yang sangat indah dan  terang karena habis diguyur hujan laut nampak sangat indah diselingi  pulau-pulau kecil

Pemandangan ini sangat menghibur kami, kami lupa dengan rasa lelah  setelah melewati jalanan yang menanjak dan tentunya menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan sampai tujuan akhir.

Setelah  puas memandangi panorama alam dan tak lupa berfoto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan menuju  Lampung melewati  daerah Tarahan dan Panjang. Kontur jalan cenderung menurun dan licin sehabis diguyur hujan.  Jalanan mulai ramai karena sudah memasuki pinggir kota  Bandar Lampung.

Memasuki gerbang selamat datang di kota Bandar Lampung, hari mulai gelap  dan rasa lapar mulai menyergap kami. Masih sekitar 12 KM menuju pusat kota,  rencana kami adalah mengunjungi salah satu kerabat team yang kebetulan tinggal di kota lampung. Setelah sampai di daerah Panjang, kami mengambil  jalan sebelah kanan yaitu jalan  Trans Sumatera ke arah Palembang melewati Kotabumi.

Hari bertambah gelap, dan rupanya  jalanan yang kami lewati sangat tidak nyaman untuk dilewati oleh sepeda, selain gelap juga bergelombang, mungkin karena dilewati Truk dan Bus dengan muatan yang penuh.  Lagi-lagi jalanan yang terus menanjak  harus kami lewati, dan gerimis   mulai turun. Kami harus lebih extra hati-hati  mengayuh sepeda dan tentunya dengan tenaga yang tersisa.

Akhirnya kami sampai juga di perempatan Balok, yaitu  perempatan  ke arah Way Halim untuk terus ke Way kambas jika belok kanan,  dan belok kiri ke arah kota.  Kembali hujan turun sangat deras, kamipun berteduh  di sekitar perempatan tersebut.  Setelah hujan mulai sedikit reda, kami melanjutkan perjalanan ke rumah salah satu kerabat. Dengan dikawal oleh motor kami melanjutkan perjalan  dalam gerimis malam dan jalanan yang gelap dan berlubang. Kira- kira 5 Km dari perempatan, masih dengan beberapa tanjakan kami akhirnya sampai di rumah kerabat tersebut.

Setelah bersilaturahmi dengan tuan rumah, dan beruntung kami disediakan makan malam dan Teh Manis yang hangat, kamipun berpamitan untuk  kembali arah menuju kota Bandar Lampung.

Waktu menunjukkan pukul 21:30, jarak ke kota Bandar Lampung adalah 6KM, harus kami tempuh ditemani gerimis.  Rencana semula adalah kami akan mencari penginapan di seputaran kota dan kemudian pagi-pagi  kami akan berkeliling kota  dan mencari sekedar oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta.

Tetapi setelah kami mencoba mencari beberapa penginapan  di daerah Jalan Raden Inten dan  Jalan Kartini, kami tidak menemukan  penginapan yang cocok.  Akhirnya setelah kami berdiskusi  segala kemungkinan, kami memutuskan untuk  tidak menginap tetapi langsung pulang  ke Bakauheni.  Akhirnya kami  mencari  minuman hangat di sekitar Jalan Kartini, di mana jalan ini banyak tenda-tenda lesehan  yang menyediakan makanan-dan minuman.

Sebagian dari kami mencoba mencari informasi  penyewaan mobil untuk mengangkut kami ke pelabuhan, karena tidak jauh dari Jl Kartini ada pasar  sayuran Bambu Kuning kami berpikir bisa mendapatkan mobil bak terbuka yang bisa kami sewa. Ternyata kebanyakan bak terbuka yang ada berukuran kecil sehingga tidak bisa mengangkut kami berdelapan dengan sepeda masing-masing.  Setelah mencoba beberapa alternatif lainnya, dan mencoba bertanya ke beberapa orang yang kami temui di sekitar pasar, kami disarankan untuk mencoba ke arah jalan Trans Sumatera  atau ke arah terminal Rajabasa yang katanya banyak mobil-mobil, truk dan bis   yang  akan ke pelabuhan yang bisa kita stop dan sewa untuk membawa kami ke arah pelabuhan.

Akhirnya kami memutuskan  untuk kembali ke arah jalan Trans Sumatera, yang berarti kami kembali lagi menuju ke arah tempat kerabat kami sebelumnya. Waktu menunjukkan pukul 01:00 Pagi, dengan rasa kantuk dan cape yang mulai menggelayut dan hawa dingin serta hujan yang menjajah tulang kami pun kembali mengayuh sepeda  ke arah jalan Trans Sumatera.

30 menit kami berjalan di kegelapan malam menjelang pagi, jalanan nampak kosong. Di sekitar Jl Antasari, jalan utama menuju jalan Trans Sumatera dari arah kota nampak sedang ada  Balapan motor liar, kamipun sejenak jadi perhatian mereka, karena kami berjalan berderet delapan sepeda lipet  dan masing-masing membawa panier di belakang sepeda. Mungkin mereka bertanya-tanya  mau ke mana? Dan  jam segini masih di jalanan?  Akhirnya kami sampai di tujuan, dan kami mencari SPBU untuk sekedar ke kamar mandi dan mencari minuman hangat.

Setelah itu kami mulai bersiap siap, melipat sepeda masing-masing dan membereskan semua bawaan kami agar mudah pada saatnya nanti  jika kami mendapatkan angkutan yang membawa kami ke arah pelabuhan.

Setelah cukup lama menunggu akhirnya kami diperbolehkan naik salah satu Bus yang menuju Pelabuhan, kamipun segera naik dan langsung beberapa dari kami tertidur pulas di dalam Bus.  Menjelang pagi  kami sampai di Pelabuhan, dengan rasa kantuk dan cape yang menggila  kamipun mencari kamar mandi untuk membersihkan diri dan mencuci sepeda kami  agar kelihatan bersih sebelum naik ke kapal. Kami sempatkan untuk membeli oleh-oleh khas lampung yang tidak sempat kami beli di kota.

Akhirnya kapal  pun membawa kami menuju Merak…

Resume hari kedua

  • Jarak Bakauheni – Bandar Lampung  kira-kira 97 KM
  • Rute – Bakauheni – Kalianda- Sidomulyo- Tarahan- Panjang- Bandar Lampung
  • Jalanan  relatif mulus dan menanjak sampai  Tarahan setelah itu relatif datar
  • Lama perjalanan  Start bakauheni 06:30  sampai di Bandar Lampung  20:00

Hari ketiga

Perjalanan di kapal  sekitar 2,5 jam kami manfaatkan untuk tidur, kami sengaja mencari ruangan untuk lesehan agar kami bisa tidur dengan nyaman. Saking nyamannya ada yang susah dibangungkan oleh  penjaga ruangan untuk membayar sewa .

Jam 10:30 kamipun sampai di pelabuhan Merak,  rencana kami akan naik Bus menuju Jakarta. Tetapi akhirnya kami lebih memilih kereta api agar tidak perlu repot-repot lagi melipat sepeda  dan juga ada tambahan barang berupa oleh-oleh. Kereta berangkat jam 14:00 dari stasiun Merak yang letaknya bersebelahan dengan pelabuhan.  Kami memilih gerbong penumpang di belakang Lokomotip agar kami bisa duduk dengan nyaman. Dengan pertimbangan pengalaman kami waktu ke anyer sebelumnya, kami naik di gerbong barang, di mana di tengah perjalanan makin penuh sesak dengan barang berupa sayuran, buah-buahan bahkan ikan asin yang akan di bawa ke Jakarta.

Kereta Api ini memang kereta rakyat, dengan membayar Rp 5,500 anda akan sampai ke Jakarta, dan jangan salah kereta pun bisa berhenti selain di stasiun, beberapa kali nampak kereta berhenti di tengah sawah untuk mengangkut penumpang dan barang.

Memasuki Stasiun Cilegon, kemudian Serang  dan Rangkasbitung kereta terus bertambah sesak, dijejali juga dengan pedagang asongan dan pengamen sepanjan jalan.

Menjelang Magrib, kami sampai di Stasiun Palmerah. Kemudian kami melanjutkan kembali mengayuh sepeda kami menuju ke arah Kalibata  tempat kami memulai perjalanan dua hari yang lalu. Setelah minum Jahe dan Bakmie Jawa di tempat kami biasa berkumpul hari Rabu dan Jum’at kamipun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing  dengan membawa kenangan selama tiga hari dari Jakarta-Lampung- Jakarta, dan mungkin mulai bermimpi tujuan Touring Berikutnya…

Biaya selama perjalanan ( di luar biaya pribadi )

  • Saweran @ Rp 100,000 X 8   = Rp 800,000
    • Makan + snack + minuman  selama 2 hari
    • Biaya  Kapal  @ Rp 10,000  ( PP  @ Rp 20,000 )
    • Biaya Bis Lampung – Bakaujeni @ Rp 20,000
  • Kereta Api  Merak Jakarta @ Rp 5,500 + Rp 5,000 untuk bagasi

9 Responses so far »

  1. 1

    Iyunk said,

    kata om TP saat di Cililitan , ” sialan….ketauan temen kantor gw…” hahahaha
    , dah ketauan madol duluan…..

  2. 2

    iput said,

    mantaafff…….
    ngurus SIM lagi ahhh………….. ;))

  3. 3

    ayu said,

    hik…hik..hik.. jadi terharu nich…!! Dibela-belain beli kripik pisang doang ampe ke lampung… :-p

  4. 4

    ijul said,

    it was a miracle none of you got ill… thank God!

  5. 5

    aswadi wadot said,

    mantaf bnget!aq touring pake mtr aja brsa cpe bnget!gile abiez deh!aq angkt 2 jempol tuk smua nya!

  6. 6

    deto said,

    Liat cerita teman2…saya cuma geleng2 dan ingin mengucapkan gokkiiilllll…..tob abies…..mantab…ditunggu ceritanya lagi keliling jawa naik sepeda..buat masuk rekor MURI. banyak sponsor yg akan menemani teman2 next time

  7. 7

    mute said,

    saya salut bgt mas-mas, bapak2!
    hebat dan ceritanya seru banget!

    btw saya jg mau start perjalanan ke lampung. tapi backpacking menggunakan kereta. jadi cerita mas diatas bisa jadi referensi. terutama tempat2 yang menyediakan makanan dan hotel.. ato pasar2.
    thk u ya,
    dan tetap bersepeda!

  8. 8

    robby milo said,

    Gokil…… gila gokil banget…. itu Bakau-Bandar kan tanjakannya parah… (turunannya juga ada yg curam)

    saluts lah Oms…. hihihihi

  9. 9

    sukarmo said,

    cuma mau bilang “hebat …..!!!!!”


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: