JARAMBAH – Edisi Pulang

Jarambah – Edisi Pulang ,,

Bermalam di sebuah Hotel di dalam kota Ampenan . Ampenan sendiri adalah sebuah kecamata yang masuk ke dalam wilayah kota Mataram. Dahulu nya adalah pusa kota pulau Lombok, sehingga kita bisa menemukan gedung-gedung tua yang sayangnya kurang terawat.

Malam hari kecuali , Om TP dan Om Zam, yang lain berkesempatan mencari makanan khas Lombok yang sangat terkenal yaitu Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung di sebuah warung makan di Ampenan. Makanan yang khas dengan samal terong muda yang pedas. Tetapi pada akhirnya Om TP dan Om Zam berhasil juga menyantap hidangan tersebut pada pagi harinya setelah dibungkusin dan dibawa ke Hotel.

Kami tertidur dengan pulas malam itu.

Sehabis subuh, ketika hari sudah mulai terang, Om TP dan Om Awank berkesempatan kembali keliling Ampenan. Om TP berniat membeli sikat gigi yang entah raib di mana, dan Om Awang ternyata berniat mencari kangkung khas Lombok. Entah buah siapa tuh kangkung, biarlah Om Awank sendiri yang tahu.

Setelah berputar-putar dan mencari di beberapa tempat, yang ternyata pada kira-kira jam 6 pagi di beberapa pasar masih kosong dan nampak beberapa pedangan sedang mempersiapkan jualalannya. Akhirnya kami menemukan sebuah Pasar yang cukup besar yang lebih ramai, mungkin ini Pasar Ampenan karena terletak di jalan utama Ampenan-Mataram. Ada kejadian lucu ketika Om Awank dengan PEDE nya menanyakan harga kangkung tersebut. Dengan malu-malu dia bertanya kepada seorang ibu penjual sayur

“ Bu, berapa harga kangkungnya ? ”

Si Ibu yang ditanya malah bingung. Rupanya yang Om Awank tunjuk itu bukan kangkung tapi sawi dan si Ibu itu tidak menjual kangkung. Entah karena masih ngantuk, atau memang tidak tahu bentuk kangkung Om Awank tersipu malu dan kemudian pindah ke tempat penjual lain yang ditunjukkan oleh si Ibu.

Singkat cerita, dengan wajah ceria akhirnya kami membawa beberapa ikat kangkung khas Lombok itu ke Hotel dan segera mengemasnya untuk kemudian dikirim melalui paket ke Jakarta.

Setelah sarapan pagi di Hotel, kami pun segera berkemas untuk segera kembali menuju arah Barat dengan tujuan akhir Pelabuhan Lembar. Rencana untuk menginap dua hari di Lombok berubah dengan maksud agar bisa mempunyai banyak waktu di Bali.

Kira-kira jam 9, kami pun keluar dari Hotel dan kembali menyusuri jalanan Ampenan menuju kota pusat kota Mataram untuk sekedar membeli oleh-oleh. Jalanan yang mendatar dan cukup lebar sangat cocok untuk melihat-lihat suasana pagi menjelang siang. Kami sempat berfoto-foto di depan kantor Gubernur, dan tak lupa mampir ke TIKI JNE untuk mengirimkan paket kangkung ke Jakarta.

Melewati pusat kota Mataram kami terus melanjutkan perjalan ke daerah Cakranegara untuk mencari oleh-oleh khas Lombok. Jalanan mulai terasa panas, kami berputar-putar di sekitar Pasar Cakranegara dan malah sempat salah informasi ketika kami menanyakan pusat oleh-oleh sehingga kami harus memutar balik dari Terminal Bis Sweta kembali ke arah Cakranegara. Akhirnya kami berhasil menemukan dua toko yang menjual baju-baju dan kerajinan khas Lombok.

Cukup lama kami berada di pasar ini, masing-masing sudah memilih oleh-oleh sebagi bukti telah sampai di Lombok. Waktu telah menunjukkan kira-kira pukul 12 siang, cuaca semakin panas. Om Pri segera mengajak kami semua untuk segera menuju Pelabuhan Lembar, karena menurut informasi temannya sudah dibookingin Bus di Pelabuhan dengan rencana jam 2 akan berangkat. Jarak dari Cakranegara ke Pelabuhan sekitar 25Km dengan kontur jalan yang lurus dan mendatar.

Kami pun segera memacu laju sepeda kami dengan sisa tenaga Nasi Goreng yang disediakan di Hotel. Sempat berencana untuk makan siang kira-kira 3Km lagi menuju Pelabuhan, tapi akhirnya kami SKIP karena waktu sudah menunjukkan 20 menit kurang dari jam 14. Begitu kami tiba di Pelabuhan, benar saja awak bis yang akan mengantar kami menuju Bali sudah menunggu. Segera kami packing sepeda kami untuk masuk bagasi bis. Mungkin merupakan pemandangan yang jarang terjadi bagi orang-orang di sana, melihat bagaimana sepeda bisa dilipat-lipat menjadi lebih kecil. Beberapa ada yang bertanya ttg berapa harganya? Dan bertanya kami mulai perjalanan dari mana? Dan pertanyaan lainya yang kami jawan satu persatu.

Rupanya kami masih harus menunggu lebih dari 1 jam karena Kapal Ferry belum datang. Sambil menunggu beberapa dari kami menyempatkan diri untuk mencari sesuap nasi di warung sekitar Pelabuhan, dan membeli air dan cemilan untuk bekal perjalanan 4 jam di Kapal.

Kira-kira jam 16 setelah proses bongkar muat selesai, kapal pun segera bergerak dari Pelabuhan Lembar. Om Pri dan Om Heru segera mencari posisi untuk tidur dengan menyewa matras dan segera keduanya terlelap. Yang lainnya memilih duduk di dek Kapal memandang laut lepas.

Perairan laut antara Bali dan Lombok terkenal banyak lumba-lumba, kami terus menunggu kehadirannya yang tidak bisa kami lihat pada saat dari Bali menuju Lombok karena waktu itu kapal berangkat tengah malam. Kira-kira 2 Jam perjalanan mulailah ramai orang berteriak “ lumba-lumba!!!” . Segera kami beranjak ke pinggiran kapal dan memang tampak sekelompok lumba-lumba melintas berkelompok. Pemandangan yang cuma berlangsung dalam hitungan menit itu lumayan sedikit menghibur kebosanan di Kapal. Om Pri dan Om Heru yang tertidur pulas tidak bisa menikmati adegan lumba-lumba yang melompat dan melintas.

Kira-kira menjelang jam 21 kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Padai Bai. Bis yang kami naiki segera melanjutkan perjalan ke Denpasar. Ada kejadian lucu begitu keluar dari kapal. Kondektur bis segera berjibaku menghitung berapa jumlah penumpang. Rupanya akan ada pemerikasaan menjelang pintu keluar Pelabuhan. Ada dua pemeriksaan, yaitu pemeriksaan KTP dan pemeriksaan oleh Agen Bis. Mungkin untuk mengurangi jumlah penumpang sebelum pemeriksaan Om Pri dan Om Zam yang kebetulan duduk di kursi paling belakang disuruh oleh kondektur bis untuk bersembunyi di bagian belakang bis. Dan dengan trik lainnya kondektur bis menyuruh penumpang yang tidak mempunyai KTP untuk bersembunyi di dalam toilet.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh Polisi ini kabarnya untuk mencegah dan mengurangi TKI ilegal dari Lombok. Beberapa anak muda disuruh Polisi untuk turun dan dilakukan pemeriksaan lanjutan di Pos Polisi. Entah karena memang KTP nya bermasalah, atau Polisi sudah biasa dan mencium gelagat dan strategi agen TKI ilegal yang akan menyeberang ke Bali. Lumayan lama kami menunggu anak-anak muda tersebut kembali naik bis, dan menurut kondektur bis anak-anak muda tadi harus membayar masing-masing 100 ribu agar dapat kembali melanjutkan perjalanan. Entah untuk apa uang 100 ribu tersebut?

Akhirnya Bis kembali melaju menuju Denpasar, melewati jalanan yang kemarin kami lalui . Kami bisa kembali mengingat bagaimana kami melewati jalanan ini menjelang tengah malam, dikejar anjing dan beberapa kejadian lainnya. Rupanya bis tidak melewati jalur yang kami lewati menjelang Gianyar berbelok melalui jalur ByPass menuju Denpasar. Jalanan yang lebar tetapi banyak di beberapa tempat rusak dan berlobang yang membuat kami was-was nasib sepeda kami di bagasi.

Karena bis yang kami naiki tujuan akhirnya adalah Terminal Ubung yang berada sekitar daerah perbatasan luar kota, maka kami turun di di ByPass Ngurah Rai. Setelah packing dan menyetel sepeda kami masing-masing kami melanjutkan perjalanan ke Kuta dengan jarak kurang lebih 25Km. Jalanan ByPass yang lebar dan sedikit bergelombang membuat kami kembali terbagi ke dalam beberapa kelompok. Di pertigaan menuju Sanur – Arah Kota Denpasar kami re-grouping.

Memasuki kota Denpasar, sekitar daerah Renon kami sempat menikmati BikeLane yang cukup lebar. Tetapi karena waktu sudah menunjukkan jam 22 dengan jalanan yang kosong BikeLane menjadi tak berarti. Entah kalau siang hari apakah BikeLane ini cukup efektif dan banyak yang menggunakannya.

Rasa lapar terus menggoda dan dijadikan alasan untuk berhenti, sementara waktu terus bergerak menuju angka 24. Kurang lebih 5km lagi menuju Kuta ditemani langit yang mulai gelap seperti hujan akan segera turun, kami singgah di sebuah warung tenda pinggir jalan sekitar Teuku Umar atau Imam Bonjol. Benar saja begitu kami selesai menyantap Soto, Nasi Goreng dan Teh Manis, hujan turun dengan sangat deras. Warung yg juga berada di halaman komplek ruko-ruko itu akhirnya menjadi tempat kami beristirahat menunggu hujan sedikit reda.

Kurang lebih 1 jam berikutnya kami meneruskan perjalanan di temani gerimis dan jalanan yang basah. Bayangan kasur yang empuk dan kamar mandi dengan air hangat sudah di pelupuk mata. Memasuki kawasan kuta yang tak ternah tidur, kami berusaha mencari penginapan, losmen. Dari mulai Poppies I, II dan beberapa jalan dan gang kecil kami masuki dan kami baru sadar waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi. Banyak penginapan yang sudah memasang tulisan “ No ROOM atau FULL “ Atau penjaganya sudah tertidur. Rasa ngantuk dan cape mulai membuat kami memutuskan untuk mencari alternatif lain; Dan pilihannya adalah tidur di Pantai Kuta.

Suasana Pantai Kuta sehabis diguyur hujan masih sedikit ramai, terlihat beberapa orang masih berjalan menyusuri pantai atau hanya duduk berpasangan di pasirnya. Di sebuah Pos di samping WC umum akhirnya menjadi pilihan yang tepat untuk beristirahat. Bahkan beberapa dari kami sempat mandi dan membersihkan diri, tetapi ada juga yang langsung tertidur di pelataran pos tersebut dan di atas pasir. Gerimis yang kembali turun, dan ganguan nyamuk membuat yang memilih tidur di pantai harus pindah mencari area yang tidak terkena kucuran air hujan.

Waktu terasa berjalan begitu cepat, tiba-tiba saja pagi sudah menjelang. Petugas WC umum baru saja datang dan dengan halus mengusir kami pergi. Para pedangan pinggiran Pantai Kuta sudah mulai berdatangan dan menyiapkan dagangannya. Begitu dagangannya telah siap kami memesan Kopi dan Teh Manis dan kue-kue untuk sarapan.

Tak terasa sudah seminggu kami meninggalkan rumah, kembali kami berdiskusi untuk persiapan pulang. Rencana untuk tinggal lebih lama di Bali akhirnya batal, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta sore dengan menggunakan Pesawat. Setelah sarapan selesai, perjalanan dilanjutkan ke arah Kuta Square untuk mencari oleh-oleh. Setelah itu perburuan oleh-oleh berlanjut ke sekitar kawasan jalan Raya KUTA dan sekitar JOGER. Om TP dan Om Zam berpisah untuk kembali ke Denpasar sedangkan yang lainnya mengarah ke Bandara.

Hari mulai siang, setelah Om TP dan Om Zam kembali dari Denpasar, kami akhirnya bertemu kembali di pintu gerbang Bandara. Bayangan untuk segera pulang dengan pesawatpun akhirnya pupus setelah kami mencoba mencari tiket di berbagai loket penerbangan. Harga tiket yang tiba-tiba melonjak membuat kami berpikir untuk mencari alternatif lain kembali ke Jakarta. Memang sebelum melakukan perjalanan ini kami sudah menghitung perkiraan harga tiket tetapi ternyata dalam kenyataan nya meleset, akhirnya kami memutuskan untuk mencari Bis menuju Surabaya.

Ada dua pilihan bis sebetulnya yaitu, Naik DAMRI dengan tiket terusan sampai ke Surabaya atau naik bis umum menuju Surabaya. Menurut saudaranya Om Pri yang kebetulan kembali bertemu untuk mengantarkan tas dan barang bawaan yang kami titipkan sebelumnya, DAMRI berangkat jam 16:00 dari Denpasar untuk kemudian naik kereta dari Ketapang sampai Surabaya. Kami pun bergegas segera menuju Denpasar karena kami harus datang langsung ke kantor DAMRI untuk membeli tiketnya. Sementara waktu yang tersisa kurang lebih 40 menit dan jarak dari sekitar Bandara menuju Denpasar kurang lebih 20km. Dan sialnya jalanan macet sekali, entah ada apa, kami harus pintar-pintar memilih jalan agar cepat sampai ke Denpasar. Dan ternyata alamat kantor DAMRI pun agak susah untuk ditemukan, entah karena kami begitu tergesa-gesa sehingga tidak melihatnya atau karena hal lain kami tidak tahu. Setelah coba kami telepon orang di seberang sana mengabarkan bahwa bis sudah berangkat dan keberangkatan berikutnya adalah esok hari jam 5 pagi.

Hmmm rencana pertama gagal, bayangan rumah, kasur empuk mulai menjauh. Pilihan kedua kami ambil akhirnya dengan harapan masih ada bis dari Terminal Ubung menuju Surabaya. Badan yang sangat cape membuat kami melambat menempuh kurang lebih 10km menuju Terminal Ubung. Syukurnya masih ada bis yang akan berangkat jam 18 menuju Surabaya. Segera kami berhitung lama perjalanan Denpasar-Surabaya untuk menghitung kemungkinan agar sampai di Surabaya sebelum jam 7 untuk kemudian naik kereta pagi ke Jakarta. Jika semua sesuai rencana, diperkirakan bis akan sampai di Terminal Surabaya jam 6 pagi, dan jarak dari Terminal ke Pasar Turi kurang lebih 10km, rasanya akan cukup dengan harapan masih ada tiket tersedia.

Sambil menunggu keberangkatan bis, kami makan yang entah makan siang atau makan malam. Tepat jam 18 bis pun keluar dari Terminal Ubung. Melewati Tabanan kami kembali teringat perjalanan melahap tanjakan demi tanjakan sekitar Tabanan. Bis yang sangat nyaman, disertai bantal dan selimut dengan hanya kami berenam + 1 orang lainnya membuat kami bebas memilih tempat duduk dan beberapa dari kami segera tertidur. Di beberapa tempat bis berhenti untuk menaikkan penumpang tapi hanya 2 atau tiga orang saja.

Kurang lebih jam 21, bis yang kami naiki sudah berada di dalam Fery yang akan membawa kami menyeberang selat Bali menuju Ketapang. Sementara yang lain tertidur pulas di dalam Bis, Om Tp, Om Dody dan Om Pri turun dari bis dan naik ke geladak Fery. Om Pri malah sempat merasakan pijitan tukang pijit di dalam Fery.

Kemudian setelah bis keluar dari Fery, perjalanan dilanjutkan dari Ketapang menuju Surabaya melewati Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo persis melewati semua jalanan yang kami lewati beberapa hari sebelumnya. Karena perjalanan hampir tengah malam didukung dengan jalanan yang kosong, supir bis memacu kendarannya dengan selalu mengambil jalan di kanan, di beberapa tempat malah sempat terjadi kecelakaan. Malah menjelang kota Situbondo setelah keluar dari kawasan baluran kaca depan bis dilempar batu oleh orang sehingga membuat kaca depan hampir berlubang, pecahannya sampai terasa di dalam bis. Bis kemudian berhenti di Situbondo untuk istirahat makan. Sungguh kami beruntung memilih bis ini. Bis yang kosong, cepat pula, dikasih makan dan snack dengan membayar 110 ribu membawa kami menuju Surabaya.

Menjelang jam 6 pagi, kami sampai di terminal bis di daerah Waru yang berada tidak jauh di tempat ban belakang Om Ridwan meledak. Segera sepeda-sepeda kami keluarkan dari bagasi dan packing kembali bawaan kami dan segera menuju Pasar Turi. Rupanya surabaya habis diguyur hujan, terlihat jalanan yang basah dan genangan air di beberapa tempat.

Begitu kami tiba di Stasiun Pasar Turi, kami langsung membeli tiket kereta api. Setelah tiket kami pegang, bayangan Jakarta, rumah kembali mendekat. Di sebuah warung di pinggir Stasiun kami sarapan dan mandi. Dan kemudian setelah itu kembali melipat sepeda kami untuk masuk ke dalam stasiun.

Tepat jam 8 kereta mulai bergerak dari Pasar Turi. Karena kereta yang kami naikin kali ini adalah kereta eksekutif , dengan sedikit kenyamanannya membuat kami dapat beristirahat menebus hutang tidur selama perjalanan kami.

Di dalam kereta kami sempat kembali melihat foto-foto perjalanan kami selama seminggu yang penuh tawa, canda, perbedaan pendapat, kelelahan dan segala macam perasaan yang mudah-mudahan membuat kami menjadi lebih tahu karakter masing-masing dan membuat kami menjadi lebih akrab satu sama lain.

Bukan rahasia umum kalau kereta api selalu terlambat, begitu pula kereta ini . Yang seharusnya sudah sampai di stasiun jatinegara pukul 18, hampir pukul 20 baru sampai dan berhenti di jatinegara.

Om pri dan Om Heru berpisah untuk menuju Rawamangun, yang lain kembali mengayuh sepeda menuju rumah masing-masing.

Dan JARAMBAH pun selesai.

Banyak yang bisa kami petik dalam perjalanan ini, setidaknya bukan perjalanan yang sia-sia dan bukan untuk membanggakan diri telah melakukan perjalan jauh dengan sepeda. Tapi lebih kepada mengukur kemampuan kami masing-masing, bagaimana mengelola ego masing-masing, dan bagaimana menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ucapan banyak terimakasih kami ucapkan untuk :
• Keluarga; anak istri , calon istri tercinta di rumah
• Temen – temen ROGAD yang memberikan support selama perjalanan
• Om Akung yang sdh menawarkan tempat menginap di Pasuruan walau dengan menyesal kami tidak bisa memanfaatkannya
• Om Heru untuk kaos Gratisnya
• Sepeda kami
• Temen dan Saudara Om Pri di Bali dan Lombok
• Dan semua pihak yang tidak bisa kami sebut satu persatu.

Lama perjalanan : 17 Nop – 25 Nopember
Total Perjalanan : kurang lebih 720km

Tambahan perkiraan biaya perjalanan. ( di luar biaya pribadi )

Tiket Kereta api Bisnis JKT- Surabaya : 180 Ribu
Saweran makan, cemilan/hari, Fery @ 50 ribu : 300 Ribu
Saweran Hotel 3 X @50 ribu : 150 Ribu
Ongkos Bis Mataram- Denpasar : 100 Ribu
Ongkos Bis Denpasar – Surabaya : 110 Ribu
Tiket Kereta Api Eksekutif Surabaya-JKT : 260 Ribu

TOTAL : 1, 1 Juta

4 Responses so far »

  1. 1

    dody said,

    mantab ceritanya……………..lanjuuuut

  2. 2

    rogadsb2w said,

    udah abis ceritanya lanjut ke mana?

  3. 3

    iPut said,

    pada beli mutiara gak dari lombok….???
    disanakan lumayan murmer tuuh mutiaranya, itung2 buat pelicin wat trip selanjutnya, jadi inget gowes dari bogor pulang ada yang minta dibawain asinan…🙂

  4. 4

    Anonymous said,

    Elsa gowes


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: